
-sosok Pastor D. Bambang Sutrisno, Pr-
oleh: F.X. Krisniati
Ketika umat mengeluhkan homili yang kering dan tidak menari, Romo D. Bambang Sutrisno, Pr tetap bisa mempertahankan perhatian para pendengar homilinya. Dimanapun dan siapapun umat yang mengikuti ekaristi bersama Rm Bambang tidak akan merasa bosan mendengar homilinya. Mereka bahkan dengan senang hati mendengarkan homili tersebut sampai satu setengah jam. Padahal umumnya, homili imam yang disampaikan lebih dari seperempat jam saja sudah meresahkan umat.
Salah satu keunikan yang terlihat jelas dari homili Rm Bambang adalah aspek kesegaran penyampaiannya. Kesegaran tersebut terlihat dari antusiasme audiens dalam menanggapi pesan homili berikut humor-humor yang dilontarkan oleh Direktur Museum Misi Muntilan ini.
“Saya tidak pernah ndagel dalam homili meskipun saya bisa melakukan itu. Apa yang saya sampaikan adalah homili yang jujur,” jelasnya. Baginya, homili adalah refleksi atas berbagai pengalaman yang konkrit dalam terang injili. Dalam setiap misa selalu ada bacaan-bacaan yang sudah disiapkan. Bacaan tersebut menjadi semacam inti atau panduan umat dalam merefleksikan pengalaman hidupnya.
Bacaan misa kemudian dikaitkan dengan hidup seperti apa yang sudah dijalani oleh masing-masing umat yang mengikuti misa. Karena umat hidup pada masa kini, imam selaku penyampai homili wajib menyesuaikan dengan zaman sekarang. Imam tidak perlu melulu berpaling pada masa umat Israel tetapi pada kondisi umat saat ini. Mengingat imam menjadi komunikator utama dalam homili, ia juga harus jujur dalam merefleksikan pengalaman hidupnya yang konkrit.
“Kejujuran ini bermula dengan berani melihat semua pengalaman pribadi dengan jujur. Tentu yang yang dilihat bukan hal-hal yang besar namun hal-hal kecil,” lanjut Rm Bambang. Karena hal yang direfleksikan adalah hal yang kecil, perenungannya bisa mendalam. Selain itu, hal-hal kecil yang direflesikan dengan jujur pasti menyentuh lubuk hati siapapun, baik itu pembicara maupun pendengar.
“Misalnya, kalau waktu misa saya melihat perempuan cantik dan mendadak saya tergetar ya saya sampaikan saja dengan jujur pada waktu homili. Pasti “ger” umat menertawakan saya. Saya juga pasti menertawakan diri sendiri. Tapi di dalam hati ini, mereka pasti akan introspeksi – o rama itu juga manusia. Sedangkan bagi saya sendiri, kejujuran ini membuat saya langsung hening dan menghaturkannya pada Yesus.” terangnya panjang lebar.
Lebih lanjut Romo Bambang menjelaskan bahwa pengalaman hidup itu tidak pernah hitam atau putih. Pengalaman itu selalu campur-campur antara yang pahit dan yang enak. Meski tidak enak sekalipun, apa yang dialami umat atau imam secara langsung pasti selalu segar untuk disampaikan. “Nah, ini kalau kalau dilihat dengan kaca mata Injil akan menimbulkan sukacita. Lha wong Injil sendiri adalah kabar sukacita. Jadi siapapun yang percaya pada Injil akan bahagia. Bahagia meski jelek, bahagia meski pahit. Sing penting kejujuran kita menjadikan kita bahagia.”
Sukacita dan kegembiraan umat yang dibimbing imam saat merefleksikan pengalaman hidup dalam homili akan memunculkan nuansa humor. Dalam hal ini adalah kemasan yang lahir dari perasaan syukur anak manusia. Lewat kejujuran yang menunjukkan kelemahan manusia, ia berpaling pada Tuhannya, “Untung ana Gusti (ada Tuhan), lalu dia akan tersenyum. Dengan demikian humor akan mengikuti.”
Dengan demikian seseorang tidak perlu menjadi Romo Bambang untuk bisa menyampaikan homili atau pidato yang menarik. “Semua orang bisa menyampaikan humor karena humor itu manusiawi. Humor itu omong jujur sehingga bisa menimbulkan kesan gayeng. Semua orang yang ikut Yesus justru harus humoris.” ungkapnya.
Ketika imam bicara jujur, lamanya waktu homili tidak akan terasa membosankan. Umat yang dilibatkan dalam refleksi jujur dan nyata juga akan senantiasa tertarik. “Semua orang bisa humor. Yang penting berani bicara jujur, paling tidak ia bisa membuat orang lain tersenyum, Nah kalau di tangan orang yang bertalenta sebagai orator, humor akan menjadi lebih kuat.”
Secara pribadi, Romo Bambang mengaku bahwa ia harus melalui suatu proses pembelajaran khusus baru menemukan humor sebagai bagian penting dari homilinya. Berawal dari berbagai luka batin, Rm Bambang tumbuh menjadi pribadi yang kasar. Ia sangat mudah tersinggung dan marah apalagi bersentuhan dengan hal-hal yang tidak cocok dengannya.
Namun ia sendiri merasa prihatin akan kecenderungannya tersebut. Kemudian dengan tekad yang kuat dan doa pada Tuhan, ia berusaha belajar menjadi gembira. “Semuanya bermula dari kejujuran dalam berefleksi. Setelah berani jujur pada diri sendiri, saya jujur pada orang lain secara personal. Kemudian jujur pada umat bahwa saya memang kerep nesu (sering marah). Pada saat itu saya jumpai bahwa umat malah ger-geran menanggapi pengakuan saya yang jujur.”
Bahkan ia juga mempunyai misi khusus dengan memakai humor dalam homilinya, “Saya ini menentang semua yang baik secara formal. Saya memilih selalu celelekan, blak-blakan, ngomong apa adanya waktu homili. Sedang di luar saya berusaha selalu sopan dan menghargai semua orang. Sebab umat itu menyukai kejujuran yang alami. Jangan sampai umat bosan karena homili imam yang terlalu formal, yang jaga image, sopan dalam hal bahasa dan gerak tubuh tapi di luar itu tidak selaras.”
Demikianlah Romo Bambang berkembang dari individu yang kasar menjadi murid Yesus yang humoris dan berpihak pada umat yang populis. Proses ini berpangkal dan bermuara pada kejujuran dalam merefleksikan hidup lewat terang kitab suci. Dan humor selalu menemani Romo Bambang, si murid Yesus dalam semua proses pembelajarannya.
Apa yang utama baginya adalah tidak pernah jadi dagelan namun humoris. Dengan menjadi pribadi yang humoris, cakrawala seseorang akan meluas sebab ia selalu terbuka pada semua pengalaman dan orang lain.
(UTUSAN no.2 Tahun ke-58, Februari 2008)
oleh: F.X. Krisniati
Ketika umat mengeluhkan homili yang kering dan tidak menari, Romo D. Bambang Sutrisno, Pr tetap bisa mempertahankan perhatian para pendengar homilinya. Dimanapun dan siapapun umat yang mengikuti ekaristi bersama Rm Bambang tidak akan merasa bosan mendengar homilinya. Mereka bahkan dengan senang hati mendengarkan homili tersebut sampai satu setengah jam. Padahal umumnya, homili imam yang disampaikan lebih dari seperempat jam saja sudah meresahkan umat.
Salah satu keunikan yang terlihat jelas dari homili Rm Bambang adalah aspek kesegaran penyampaiannya. Kesegaran tersebut terlihat dari antusiasme audiens dalam menanggapi pesan homili berikut humor-humor yang dilontarkan oleh Direktur Museum Misi Muntilan ini.
“Saya tidak pernah ndagel dalam homili meskipun saya bisa melakukan itu. Apa yang saya sampaikan adalah homili yang jujur,” jelasnya. Baginya, homili adalah refleksi atas berbagai pengalaman yang konkrit dalam terang injili. Dalam setiap misa selalu ada bacaan-bacaan yang sudah disiapkan. Bacaan tersebut menjadi semacam inti atau panduan umat dalam merefleksikan pengalaman hidupnya.
Bacaan misa kemudian dikaitkan dengan hidup seperti apa yang sudah dijalani oleh masing-masing umat yang mengikuti misa. Karena umat hidup pada masa kini, imam selaku penyampai homili wajib menyesuaikan dengan zaman sekarang. Imam tidak perlu melulu berpaling pada masa umat Israel tetapi pada kondisi umat saat ini. Mengingat imam menjadi komunikator utama dalam homili, ia juga harus jujur dalam merefleksikan pengalaman hidupnya yang konkrit.
“Kejujuran ini bermula dengan berani melihat semua pengalaman pribadi dengan jujur. Tentu yang yang dilihat bukan hal-hal yang besar namun hal-hal kecil,” lanjut Rm Bambang. Karena hal yang direfleksikan adalah hal yang kecil, perenungannya bisa mendalam. Selain itu, hal-hal kecil yang direflesikan dengan jujur pasti menyentuh lubuk hati siapapun, baik itu pembicara maupun pendengar.
“Misalnya, kalau waktu misa saya melihat perempuan cantik dan mendadak saya tergetar ya saya sampaikan saja dengan jujur pada waktu homili. Pasti “ger” umat menertawakan saya. Saya juga pasti menertawakan diri sendiri. Tapi di dalam hati ini, mereka pasti akan introspeksi – o rama itu juga manusia. Sedangkan bagi saya sendiri, kejujuran ini membuat saya langsung hening dan menghaturkannya pada Yesus.” terangnya panjang lebar.
Lebih lanjut Romo Bambang menjelaskan bahwa pengalaman hidup itu tidak pernah hitam atau putih. Pengalaman itu selalu campur-campur antara yang pahit dan yang enak. Meski tidak enak sekalipun, apa yang dialami umat atau imam secara langsung pasti selalu segar untuk disampaikan. “Nah, ini kalau kalau dilihat dengan kaca mata Injil akan menimbulkan sukacita. Lha wong Injil sendiri adalah kabar sukacita. Jadi siapapun yang percaya pada Injil akan bahagia. Bahagia meski jelek, bahagia meski pahit. Sing penting kejujuran kita menjadikan kita bahagia.”
Sukacita dan kegembiraan umat yang dibimbing imam saat merefleksikan pengalaman hidup dalam homili akan memunculkan nuansa humor. Dalam hal ini adalah kemasan yang lahir dari perasaan syukur anak manusia. Lewat kejujuran yang menunjukkan kelemahan manusia, ia berpaling pada Tuhannya, “Untung ana Gusti (ada Tuhan), lalu dia akan tersenyum. Dengan demikian humor akan mengikuti.”
Dengan demikian seseorang tidak perlu menjadi Romo Bambang untuk bisa menyampaikan homili atau pidato yang menarik. “Semua orang bisa menyampaikan humor karena humor itu manusiawi. Humor itu omong jujur sehingga bisa menimbulkan kesan gayeng. Semua orang yang ikut Yesus justru harus humoris.” ungkapnya.
Ketika imam bicara jujur, lamanya waktu homili tidak akan terasa membosankan. Umat yang dilibatkan dalam refleksi jujur dan nyata juga akan senantiasa tertarik. “Semua orang bisa humor. Yang penting berani bicara jujur, paling tidak ia bisa membuat orang lain tersenyum, Nah kalau di tangan orang yang bertalenta sebagai orator, humor akan menjadi lebih kuat.”
Secara pribadi, Romo Bambang mengaku bahwa ia harus melalui suatu proses pembelajaran khusus baru menemukan humor sebagai bagian penting dari homilinya. Berawal dari berbagai luka batin, Rm Bambang tumbuh menjadi pribadi yang kasar. Ia sangat mudah tersinggung dan marah apalagi bersentuhan dengan hal-hal yang tidak cocok dengannya.
Namun ia sendiri merasa prihatin akan kecenderungannya tersebut. Kemudian dengan tekad yang kuat dan doa pada Tuhan, ia berusaha belajar menjadi gembira. “Semuanya bermula dari kejujuran dalam berefleksi. Setelah berani jujur pada diri sendiri, saya jujur pada orang lain secara personal. Kemudian jujur pada umat bahwa saya memang kerep nesu (sering marah). Pada saat itu saya jumpai bahwa umat malah ger-geran menanggapi pengakuan saya yang jujur.”
Bahkan ia juga mempunyai misi khusus dengan memakai humor dalam homilinya, “Saya ini menentang semua yang baik secara formal. Saya memilih selalu celelekan, blak-blakan, ngomong apa adanya waktu homili. Sedang di luar saya berusaha selalu sopan dan menghargai semua orang. Sebab umat itu menyukai kejujuran yang alami. Jangan sampai umat bosan karena homili imam yang terlalu formal, yang jaga image, sopan dalam hal bahasa dan gerak tubuh tapi di luar itu tidak selaras.”
Demikianlah Romo Bambang berkembang dari individu yang kasar menjadi murid Yesus yang humoris dan berpihak pada umat yang populis. Proses ini berpangkal dan bermuara pada kejujuran dalam merefleksikan hidup lewat terang kitab suci. Dan humor selalu menemani Romo Bambang, si murid Yesus dalam semua proses pembelajarannya.
Apa yang utama baginya adalah tidak pernah jadi dagelan namun humoris. Dengan menjadi pribadi yang humoris, cakrawala seseorang akan meluas sebab ia selalu terbuka pada semua pengalaman dan orang lain.
(UTUSAN no.2 Tahun ke-58, Februari 2008)
